Senin, 12 Maret 2012

Ujian di Dalam Kereta

Si Ular Besi
Ini cerita beberapa waktu lampau, saat aku sering naik angkutan ular besi kala harus pergi merantau ke kota Sembilan Matahari (Surabaya) dan meninggalkan kota kelahiranku yang tercinta, Kota Tulungagung (ohh,, salah,, Kabupaten Tulungagung, hehehe). Tanggal dan tahun berapa tepatnya kejadian ini terjadi, aku lupa, maklum orang lelet dan lemot,, padahal rambut kriting ini sudah aku upgrade menjadi memory eksternal, yg siap membantu otak dalam tempurung kepala, tp tetep saja BLO'ON. Kejadiannya sangat singkat, padat dan jelas tp masih dapat ku ingat, sebuah "Ujian di Dalam Kereta".


Tak ada yg spesial saat itu, saat bangun dari tidur dan bergegas menggapai tangan orang tua, minta doa, bekal dan tentunya uang, hahaha.. Langsung tujuan pertamaku adalah halte kereta api,, (yup,, benar,,halte keretaa api karena d stasiun ini, tak ubahnya sebuah halte bis, yg singgah sebentar, tp berdesak2an penumpang). Waktu sudah tak berpihak, telat bangun membuatku mendapatkan jatah tiket terakhir, dalam hatiku cm bisa berkata, "Untung aku tadi sudah mandi, walaupun mandi ala Joshua (d obok2 doang airnya), yg penting saat antri td, tak ada orang pingsan kalau aku belum mandi apalagi sikat gigi" hahahahaha...

Setelah melewati petugas stasiun (entah petugas apa, aku menyebutnya, petugas corat-coret tiket), pandanganku langsung tertuju pada seseorang, bukan pacar atau sang mantan, tp seorang teman, teman SMA yg sepertinya dia tambah gila saat kuliah d Kota Seni dan Seribu Candi, Jogjakarta (benar apa g ya sebutan ku untuk kota ini??), yg bakal aku kisahkan suatu saat nanti hehehehe...
Lama memang tak bertemu, dandanannya tambah, tambah apa ya? Orang menyebutnya mungkin aneh dan urakan, tp aku menyebutnya KEREN. Sebagai calon seniman, cukup keren, sedangkan aku, cm MANTAN CALON SENIMAN.. hahahaha. Saat berbincang pun, tak rubahnya kedua orang gila yg bertemu dan ngobrol d RSJ Menur, g jelas, g ngarah, dan seenaknya sendiri.

Tak lama, pandanganku tertuju pd seorang teman lain, teman perantauan d kampus, Institut Teknologi Sibuk SEKALI, hehehe.. cm beda jurusan, aku d bagian bangunan kapal, dia d jurusan Teknik Kimia (mungkin seperti koki yg mercik makanan, tp ini bahan2 kimia pembuat bom yg mampu meledakkan Kota Nagasaki dan Hiroshima).

Tak lama, Si Ular Besi pun datang dan meniupkan racun2nya k langit, dan berbunyi "toooooooooeeeeettttttttttt",, saat itu pula aku berlari, bukan pergi menjauh karena takut, tp berlari dan masuk k dalam mencari tempat duduk karena terlalu banyak penumpang hari ini, dg barang bawaannya, mulai dari anak, baju, makanan, minuman, dan ayam...

Benar dugaanku, aku tak dapat tempat duduk, karena harus mengalah dengan seorang nenek,, aku mencari2 lagi. Dan seorang bapak, berkata, "Disini saja, ada yg turun d Kediri". Dengan sabar, akhirnya aku dapatkan tempat duduk itu, seakan mendapat air d padang pasir. Dan saat ku mulai nyaman, tak terasa, ternyata ada ujian yg siap dilaksanakan.

Bekenalanlah aku dg bapak tersebut, tp secara mengejutkan, dia bertanya kepadaku banyak hal tentang kapal dan kuliahku, oh bukan, bukan banyak, hampir semua yg dia ketahui tentang kapal dia tanyakan padaku. Dan mulailah ilmu ngawurku, muncul hehehe ku jawab seenaknya sendiri, dan bapak itu tertawa. Cukup lama dia bertanya tentang ilmu yg kupelajari. Aku mulai curiga, siapa bapak ini? Kenapa bisa mengerti banyak hal tentang kapal dan hafal istilah2nya? Mulai ku putar otak dan mencari celah untuk bertanya kepadanya, dan secara mengejutkan dia menjawab "Saya pensiuan PT PAL dik". Ahh,, benarkan, orang awam tk mungkin bs tahu secara detail masalah kapal. Dan ternyata, daritadi aku d tes, buakn d tanya. Seharusnya aku tadi belajar dulu, sebelum menghadapi ujian dadakan seperti ini. Bapak yg bertanya ini, sangat sederhana, dan tak mencerminkan seorang pensiunan PT PAL. Bahkan saat pertama bertemu, ku kira beliau adalah pensiunan guru. Cukup sederhana untuk seseorang yang mengerti banyak hal,,, tentang KAPAL.
Ujian kali ini benar2 berbeda, tak hanya tentang bagaimana aku menyelesaikan soal2 itu, tp bagaimana aku pertama kali melihat seseorang dari covernya doang... Pelajaran yg sangat berharga dari-Mu yg Kau titipkan pd beliau yg sangat bersahaja...

Senin, 05 Maret 2012

OJT (On The Job T..................)

OJT,, ku mulai dari judul. Kenapa ku tulis judul ini "OJT (On The Job T...............)"?
Sedikit rumit memang, kenapa harus ada titik2 sebanyak itu d judul ini. Dosen d kampus ku, oh iya, aku kuliah d sebuah perguruuan tinggi PPNS - ITS (Poltek Perkapaln Negeri Sangat Sibuk Sekali - Institut Teknologi Sibuk Sekali) d sebuah kota yg sangat terkenal, Kota 9 Matahari, SURABAYA... menyebut OJT sebagai On The Job Trainning. Kita (para mahasiswa maksudku) diminta (d suruh lebih tepatny) terjun langsung k dalam jurang pekerjaan, atau lapangan kerja guna menimba ilmu dalam kehidupan nyata. Katanya sihhh.. agar lebih siap menjalani dunia kerja setelah lulus (mungkin dalam benakku terpikir "siap d marahi bos, siap d suruh2, dan siap d gaji" hihihihi)

Teman2ku yang mencari gelar S1 menyebutnya KP (Kerja Praktek), sedangkan anak2 SMK sering menyebutnya PKL (Praktek Kerja Langsung),, entahlah apalagi sebutannya, yang jelas, initinya sama, tujuan juga tidak jauh beda.

Namun akan sedikit berbeda denganku yang bloon,, OJT lebih tepat bila ku artikan singkatannya (On The Job "Tertekan") atau ... (On The Job "Tekanan"). Itulah sebabnya kenapa judul cerita ini kuberi titik2 sebanyak itu, karena setiap insan d dunia dapat mengartikan hal yang berbeda. hahahaha
Mulai dari tekanan mental, tekanan fisik, tekanan batin, tekanan jiwa, dan tekanan udara (????).. serta tekanan2 yang lain.

Banyak cerita saat OJT berlangsung, mulai dari bersantai d atas Kapa Tug Boat, mengerjakan hal yang tak pernah d dapatkan d tempat kuliah, sampai bermain game + internetan saat kerja berlangsung (yang ini beajar menjadi pegawai yang tidak benar). Tekanannya bisa seperti besi yang sedang melakukan Tensile Test.. kalau gak kuat bisa putus.

Ada banyak cerita saat ku bertemu dengan temanku yang lain, yang melakukan OJT (On The Job "Tertekan") d tempat lain, saling bertanya kabar dan bercerita berapa anak kita sekarang...(ah kacau ceritanya).... yang ku maksud bercerita bagaimana tempat kita OJT dan hal apa saja yang dilakukan d sana. Kupikir aku yang paling mengenaskan, ternyata tidak. Sungguh, tak beda jauh, sama2 mengenaskan, semua terlihat hitam kusam (seakan berjemur d gurun 100 tahun), kurus kerontang (seperti tidak makan berhari2),, dan cerita2 yang mereka suguhkan kepadaku seperti sinetron d televisi.

Cukuplah buatku untuk bersyukur, saat ku tahu bagaimana mereka, dan bersyukur masih bisa d beri kesempatan saling bercerita dengan mereka,,,